Langsung ke konten utama

29 Mei : Hari Lanjut Usia Nasional

 By : Dewi Eka (Koordinator Divisi Jurnalistik)




            Hai teman-teman,,,ada yang tahu gak tanggal 29 Mei itu diperingati sebagai hari apa? Oke deh kalau gak ada yang tahu, aku kasih tahu yaa,, Tanggal 29 Mei itu diperingati sebagai hari Lanjut Usia Nasional. Hari Lanjut Usia Nasional dicanangkan secara resmi oleh Presiden Soeharto di Semarang pada 29 Mei 1996 untuk menghormati jasa Dr. KRT Radjiman Wediodiningratyang di usia lanjutnya memimpin sidang pertama Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) (wikipedia.org). Nah, berhubungan dengan hal tersebut di Kabupaten Blitar diadakan sebuah acara untuk memeriahkan hari Lanjut Usia Nasional nih teman-teman,,

 

           Acara tersebut diadakan mulai tanggal 28 Mei 2016 sampai dengan 30 Mei 2016 looh.. Karena diadakan selama tiga hari maka terdapat serangkaian acara tentunya, mulai dari pemecahan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) makan nasi pecel dengan peserta terbanyak, pagelaran wayang kulit, lomba rebana, dan yang tidak kalah serunya adalah Blitar agro festival. Pada 28 Mei kemarin, Pemkab Blitar menggelar makan nasi pecel dan lempok belimbing massal dengan peserta sebanyak 14.730 (okezone.com) dan tercatat dalam MURI sebagai makan nasi pecel dan lempok belimbing dengan peserta terbanyak. Rekor yang dibuat oleh Kabupaten Blitar berhasil mengalahkan rekor sebelumnya dengan kategori yang sama yang dipegang oleh Madiun dengan 9.217 peserta. 

          Selain untuk memperingati Hari Lanjut Usia Nasional, acara ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan kuliner khas Blitar, sumber daya serta potensi yang dimiliki Kabupaten Blitar dalam Blitar Agro Festival. Di sinilah para pelaku usaha kecil dan menengah mengenalkan produk-produk mereka kepada masyarakat agar lebih dikenal sehingga meningkatkan daya jual terhadap produk mereka.
 












Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENARKAH??

Karya : Ariska Endah Pratiwi (Ketua Divisi Sastra 2016) Senin pagi, desir-desir angin mengipasi udara Malang. Sejuk, dengan rimbun pohon hijau dan gesekan sapu tukang kebun yang mengayunkan nada pada daun-daun yang berguguran. Sendiri, aku mengetik tulisan ini sendirian, tanpa kawan, tanpa makanan, tanpa minuman. Hening, tepat ketika jarum jamku menunjuk angka delapan, aku hilang dalam keheninganku sendiri. “Mengapa aku disini?” tanyaku pada papan keyboard yang kutunggangi. “Untuk apa aku disini?” tanyaku pada hening yang memuakkan. Aku haus, kurogoh tas ransel abu-abu yang baru dibelikan ibuku satu minggu lalu. Kuambil sebotol air putih pada wadah orange dan kutenggak. Tetapi kerongkonganku tetap kering dan sakit. Aku baru sadar udara sejuk ini menipuku, karena pada kenyataannya aku tak sesejuk pohon maupun tiupan angin. Aku gersang dan terlalu banyak pertanyaan yang menyembul bagai sulur di atas otakku, mematikan aku untuk berpikir yang membahagiakan. Tadi malam, aku mim...

Hidup Sendiri Akan Terasa Damai dan Baik-Baik Saja

 Oleh: Feris Rahma Auliya Aku pernah merasa jenuh untuk tinggal di rumah, yang sepertinya tidak lagi menjadi tempat pulangku yang utuh. Setiap hari, ada saja perselisihan yang terjadi di rumah kami. Entah saling berebut remot TV dengan adik, ibu yang menyuruh membeli ini dan itu padahal aku sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah, atau ayah yang- Ah sudahlah! Aku bahkan tidak pernah akrab dengan ayah. Dalam sehari pun, belum tentu aku berbicara kepadanya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berbicara seperlunya saja. Tanpa ada kesepakatan, hal itu terjadi dengan sendirinya. Seperti itulah gambaran rumah bagiku. Rasanya muak. Aku ingin pergi. Pergi jauh ke kota orang yang asing. Di mana hanya ada aku dan diriku. Itu saja. “Hidup sendiri akan terasa damai dan baik-baik saja,” begitulah pikirku. Pada bulan April yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, aku berencana merantau ke kota Blitar. Selain karena tempat kuliahku berada di kota Patria itu, aku juga ingin menjelajah bumi, meny...

Omelan Aktivis Desa

Penulis : Khoirul Muttaqin (PLS FIP 2015) Udara yang segar hujan yang indah bulan yang telah berlalu. Secuil mentari terlihat anggun dibalik gunung jauh pertanda hari baru telah datang. Kupu-kupu dan kumbang mulai menampakkan dirinya di antara bunga-bunga melati kesukaanku. Bulan ini berbeda dengan bulan yang telah berlalu. Nyanyian ketidak cocokan terus mengalir dalam benakku. Hari-hari ini. Beberapa hari suara klakson aneh itu terdengar terus di telinga. Pagi siang malam suaranya tak kunjung reda. Kenapa yang hanya suara seperti itu saja bisa menggema ke berbagai sudut ruanganku, televisi radio dan dunia maya juga tak henti-hentinya mengeluarkan suara aneh itu. “Buku Conscientizacao Tujuan Pendidikan Paulo Freire ini   kelihatannya bagus   buat dibaca orang-orang latah itu agar sadar akan keberadaannya. Supaya tidak mudah ikut-ikutan budaya tranding , terseret arus yang enggak jelas yang terlihat bagaikan tidak memiliki p...