Langsung ke konten utama

Pembaruan Peserta Lomba Terbaru

  Daftar Peserta Lomba Cerpen Nasional Tingkat SMA/SMK/MAN
1. Besse Soraya Tenri Ajeng (Sulawesi Selatan) “Hujan yang Membasahi Mereka”
2. Della Felliana (Jombang) “Kelinci Polos”
3. Dita Ayu Maharani (Purbalingga) “Sekuncup Mawar”
4. Nadila Ayu Permatasari (Nganjuk) “Friendzone”
5. Nurul Chalissya Purnama (Sumatera Barat) “My Cure”
6. Qatrunnada Kirana Salsabila (Bekasi) “Seratus Tiga Puluh Lima”
7. Salsabila Mierszan Fairuzsalwa (Sampit) “Rindu”
8. Faiqoh Rashwah Salsabila (Boyolali) “Sholeh untuk Sholehah”
9. Triana Aulia Safitri (Lombok) “Batu Karang”
10. Yeni Pratiwi (Nganjuk) “Arti Sebuah Ketulusan”
11. Yusya Rugaya Salsabilah (Surabaya) “Way Back To Home”
12. Anggi Muhammad Lubis (Garut) “1001”
13. Alifa Tanzila Meiviana (Jawa Barat) “Titik yang Lama Hilang”
14. Bella Hardiyanti (Cirebon) “Langit”
15. Khusnul Khotimah (Sumatera Selatan) “Nyatanya”
16. Afifah Firda Amalia (Jember) “Lilin Kehidupan”
17. Aldean Nadhyia Laela Sari (Malang) “Receh”
18. Mayzidah (Madiun) “Suara Bayangan”
19. Muhammad Fiki Rizki (Bandung) “Mereka Awan yang Pudar”
20. Iftiana Rahmaningtyas (Kediri) “Selaksa Rindu dari Jogja”
21. Haffidz Hisyam Muffied (Jawa Barat) “Dimas”
22. I Gusti Ayu Agung Istri Risna Prajna Dewi (Bali) “Aurantiaca”
23. Andita Eka Wahyuni (Probolinggo) “Gadis Bermata Bulan”
24. Ananda Farah Salsabila (Sidoarjo) “Utopia Waktu”
25. Weka Firda Rizki Nurzulla (Mojokerto) “Kali Kedua”
26. Sugeng Santoso (Blitar) “Warisan Cinta”
27. Fenisa Ayu Rahma Sari (Blitar) “First Love”
28. Indah Pelita Sari Ardanti (Bengkulu) Kenangan Terindah di Musim Gugur”
29. Widelia Salsabila Putri (Jember) “My Classmate”
30. Rachel Meidina Maharani (Bandung) “Terlambat”
31. Leonardo Wisnu Prasetyo (Jawa Tengah) “Keabadian Sebuah Perpisahan”
32. Hanifah Fitria Ulfa (Tulungagung) Relikui Kisah Romansaku”
33. Ricky Muhammad Alif (Madiun) “Pemain Hati”
34. Rheni Anggraini (Jombang) “Permen Kapas”
35. Hidayatul Ulum (Kediri) “Menunggu Harvis bersama Cangkang Beki”
36. Merisa Adha Azzahra (Sumatera Barat) “From Me To Shadow”
37. Alzahra Sepbriana Arpani (Samarinda) “Surat Misterius”
38. Bella Lalita Virginia (Bandung) “My Second Heart”
39. Sania Ramadani (Jawa Barat) Karena Dia Menyayangiku”
40. Intan Nisaaul (Tuban) “Senyum Terakhir Syahdu”
41. Dicky Agung Farera (Malang) “Cinta Satu Malam”
42. Birra Lailatul Nafiisa (Madiun) “Setengah Dewa”
43. Sasya Azura Pramono (Kalimatan Tengah) “Seindah Musim Semi di Istanbul”
44. Kadek Dhea Paramitha Amara Putri (Bali) “Epilog”
45. Feni Widiyanti (Blitar) “4 EL (Lone, LoL & Love)
46. Faiz Gading Rahmadana (Ponorogo) “Perkenalan yang Tak Terduga”
47. Khairun Husna (Magelang) “Just a Hope”
48. Theosophy Ilma Amira Azzahra (Purwokerto) “Fallen Blossom”
49. Maria Sekar Cahyaningrum (Jawa Tengah) “Pengakuan Tak Terucap”
50. Shinta Nurul Qomairoh (Lamongan) “Goresan Malam”
51. Adelia Surya Pratiwi (Bali) “Merpati Tahu Kemana Ia Harus Pulang”
52. Evan Darmawan Khancitra (Magelang) “Long Black Confession”
53. Adinda Dwi Safira (Pasuruan) “Everthing Hasn’t Changed”
54. Mazroatul Khusni (Lamongan) “Cinta?,Nasihat Induk”
55. Devi Elya Ningtyas (Bojonegoro) “Misteri Tangisan di Siang Hari”
56. Devi Elya Ningtyas (Bojonegoro) Sahabat”
57. Listaning (Bojonegoro) Cinta Diam-diam”
58. Yuli Uliasari (Bojonegoro) Si Culun dan Si Keren”
59. Nur Atika (Magelang) “Fairytale Dream”
60. Wening Tyas Putri (Jakarta Barat) “Ksatia di Masa Lalu”
61. Alisa Deliana (Jawa Barat) “Hadiah”
62. Zakiyah Azzahra (Jawa Barat) “Bulan”
63. Linda Nurazizah (Sumedang) “Suaka Air Mata”
64. Siti Hajar Saskia Putri (Jakarta Selatan) “Menghidupi Asumsi”
65. Arinda Wita Hedila (Sumatera Selatan) “The Real Treasure”
66. Binti Sofiatul Amalia (Batu) “Rainbow”
67. Indaryati Machmudi (Probolinggo) “Will You Be Mine?”
68. Wening Primaestri (Surakarta) “Mengapa Kau Menolongku?”
69. Adinda Rahima Az Zahra (Sidoarjo) “Rindu”
70. Aqila Maulidiyah (Sidoarjo) “Direlung Rindu yang Terdalam”
71. Nabila Qurrota (Sidoarjo) “Senja yang Hidup di Balik Senyummu”
72. Nabilatur Rahmah (Sidoarjo) “Karena Dirinya-lah Jiwaku”
73. Nawabika Izzah (Sidoarjo) “Sunrise Bersamamu”
74. Nabila Nur Fitrianti (Malang) “Suasana Kemerdekaan di Ma’had Al Ulya”
75. Lutfia Nur Aini (Jawa Tengah) “Aga dan Gia”
76. Ikkyu (Bandung) “Will You?”
77. Ayu Andriana Tohalifah (Malang) “Penantian tak Berujung”
78. Salsabila Izzati Syauqina (Malang) “Masih Lamakah”
79. Shinta Alfiahnur (Samarinda) “Penantian tak Berujung”
80. Irma Soraya Nur Aini (Magelang) “Senyuman yang Berbeda”
81. Btari Aliya Tsabitah (Malang) “On This Platform I Met You”
82. Dara Aldana Yasanda Etmansyah (Malang) “Aku, Dia dan Petang”
83. Magda Eugenia (Bandung) “5 tahun Mencintai dan di Khianati”
84. Winada Almaluna (Kediri) “Titipan dari Ayah”
85. Silvia Nurul Ashiva (Tulungagung) “Mengapa Takdir Tuhan Tak Kutahu”
86. Chano Paramita (Pasuruan) “Kejutan Itu Adalah Madha”
87. El Syafira Saragih (Kediri) “Cornelya”
88. El Syafira Saragih (Kediri) “Ivan yang Datang dan Pergi”
89. Yasmine Helga (Pekan Baru) “Relativitas Waktu”
90. Salma Alfi Zahrani (Kediri) “Engkaulah Deburan Ombak Penghibur Lara”
91. Akmal Gumelar Panduwinata (Bekasi) “Rahasia Waktu”
92. Ardhana Cristian Noventri (Malang) “Cahaya Surya untuk Hidupku”
93. Ardyyanti Oktavianti (Malang) “Pandanya dan Pdanya”
94. Tri Setia Agustiani (Blitar) “Secarik Kertas Cinta”
95, Ajeng Fadhillah (Kepanjen) "Penantian Tak Berujung"
96. Hawa Annisa Sudadiyo (Depok) "Masih Ada Hari Esok"
97. Putri Ramadhanti (Bekasi) "Rajagaluh"
98. Deviana Saputri (Blitar) “Sepasang Alis Tebal”
99. Melinda (Blitar) “Two”
100. Utari (Blitar) “Aku dengan Suara Adzan”
101. Widia Fa’is Safitri (Blitar) “Kehidupan harus tetap Berjalan”
102.  Frida Khairunnisa (Blitar) “Bahagia dalam Luka" 
103. Izazi Nabila Lainun A (Blitar) “Semua Karena Social Media”
104. Kunti Lestari (Blitar) “Ketika Badboy Insaf”
Terimakasih, di tunggu pemenangnya pada tanggal 17 september 2016. Salam Literasi sahabat penaku...

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENARKAH??

Karya : Ariska Endah Pratiwi (Ketua Divisi Sastra 2016) Senin pagi, desir-desir angin mengipasi udara Malang. Sejuk, dengan rimbun pohon hijau dan gesekan sapu tukang kebun yang mengayunkan nada pada daun-daun yang berguguran. Sendiri, aku mengetik tulisan ini sendirian, tanpa kawan, tanpa makanan, tanpa minuman. Hening, tepat ketika jarum jamku menunjuk angka delapan, aku hilang dalam keheninganku sendiri. “Mengapa aku disini?” tanyaku pada papan keyboard yang kutunggangi. “Untuk apa aku disini?” tanyaku pada hening yang memuakkan. Aku haus, kurogoh tas ransel abu-abu yang baru dibelikan ibuku satu minggu lalu. Kuambil sebotol air putih pada wadah orange dan kutenggak. Tetapi kerongkonganku tetap kering dan sakit. Aku baru sadar udara sejuk ini menipuku, karena pada kenyataannya aku tak sesejuk pohon maupun tiupan angin. Aku gersang dan terlalu banyak pertanyaan yang menyembul bagai sulur di atas otakku, mematikan aku untuk berpikir yang membahagiakan. Tadi malam, aku mim...

Hidup Sendiri Akan Terasa Damai dan Baik-Baik Saja

 Oleh: Feris Rahma Auliya Aku pernah merasa jenuh untuk tinggal di rumah, yang sepertinya tidak lagi menjadi tempat pulangku yang utuh. Setiap hari, ada saja perselisihan yang terjadi di rumah kami. Entah saling berebut remot TV dengan adik, ibu yang menyuruh membeli ini dan itu padahal aku sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah, atau ayah yang- Ah sudahlah! Aku bahkan tidak pernah akrab dengan ayah. Dalam sehari pun, belum tentu aku berbicara kepadanya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berbicara seperlunya saja. Tanpa ada kesepakatan, hal itu terjadi dengan sendirinya. Seperti itulah gambaran rumah bagiku. Rasanya muak. Aku ingin pergi. Pergi jauh ke kota orang yang asing. Di mana hanya ada aku dan diriku. Itu saja. “Hidup sendiri akan terasa damai dan baik-baik saja,” begitulah pikirku. Pada bulan April yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, aku berencana merantau ke kota Blitar. Selain karena tempat kuliahku berada di kota Patria itu, aku juga ingin menjelajah bumi, meny...

Omelan Aktivis Desa

Penulis : Khoirul Muttaqin (PLS FIP 2015) Udara yang segar hujan yang indah bulan yang telah berlalu. Secuil mentari terlihat anggun dibalik gunung jauh pertanda hari baru telah datang. Kupu-kupu dan kumbang mulai menampakkan dirinya di antara bunga-bunga melati kesukaanku. Bulan ini berbeda dengan bulan yang telah berlalu. Nyanyian ketidak cocokan terus mengalir dalam benakku. Hari-hari ini. Beberapa hari suara klakson aneh itu terdengar terus di telinga. Pagi siang malam suaranya tak kunjung reda. Kenapa yang hanya suara seperti itu saja bisa menggema ke berbagai sudut ruanganku, televisi radio dan dunia maya juga tak henti-hentinya mengeluarkan suara aneh itu. “Buku Conscientizacao Tujuan Pendidikan Paulo Freire ini   kelihatannya bagus   buat dibaca orang-orang latah itu agar sadar akan keberadaannya. Supaya tidak mudah ikut-ikutan budaya tranding , terseret arus yang enggak jelas yang terlihat bagaikan tidak memiliki p...