Langsung ke konten utama

Tangis Merah-Putih


Selayar merah berkibar dalam kobar
Membentang putih teriring suci
Getar dua tangan menggenggam
Tonggak kokoh penegak merah-putih

Dalam Rahmat berbalut hikmat
Menetes peluh akan kesah yang mengabad
Bersama teriakkan senandung kemenangan
Atas kemerdekaan yang telah  lama dirindukan

Tanah moyangku yang subur
Begitu sulit menjadi tegap dalam pijakan diatasmu
Penuh juang dan korban
Teriring tangis pada luka yang terhunus senapan

Kala itu, mati adalah prestasi
Hingga berbondong menggadaikan nyawa adalah biasa
Demi satu tujuan mulia
Mengikis tangis diwajah generasi muda

Proklamasi berkumandang dari pagi hingga petang
Semarak haru akan pengorbanan yang terbayar
Dalam hingar bingar harapan akan masa depan
Bersama do'a bagi  generasi yang telah lama diperjuangkan

Lantas kini,  bagaimana nasib generasi yang telah diperjuangkan itu?
Yang sejenak berdiri menghadap terik berlatar merah-putih saja tak mau
Yang mengaku nasionalis, namun hanya gemar berucap lewat ketikan jari manis
Yang mengaku patriotis, sedang ditanya nama pahlawan ia hanya meringis

Nyatanya,  kini merdeka adalah biasa
Dan mati sangatlah ditakuti
Sedangkan banyak sekali yang masih buta tak menyadari,
Bahwa penjajah pada zaman kini tak lagi menyebar luka untuk ditakuti

Malang, 17 Agustus 2019


Oleh :
Dewi Nafisah
Anggota Divisi Sastra 
MP3 FIP UM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOMBA CERPEN NASIONAL MP3 FIP UM

 Syarat dan ketentuan : Peserta siswa SMA/SMK/Sederajat se-Indonesia Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat Hak cipta melekat pada penulis, tapi hak terbit menjadi hak panitia  Tanggal penting : Pengumpulan naskah 17 Juni s.d. 30 Agustus 2016 Penjurian 1 September – 7 September 2016 Pengumuman Lomba 9 September 2016  Ketentuan naskah : Karya diketik rapi dalam bentuk softfile ms.word : kertas A4, Times New Roman, font size 12, spasi 1.5, margin kiri 4cm, margin kanan 3cm, margin atas 3cm, margin bawah 3cm. Panjang naskah 3-5 halaman Karya yang dikirim tidak diperbolehkan mengandung unsur adu domba antar suku, agama, ras Karya yang dikirim harus bersifat original, dan belum pernah dipublikasikan di media apapun    Mekanisme pendaftaran lomba cerpen Peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000 per naskah Pembayaran dikirimkan ke rek. BRI 640501010814538 an. Armi Diah Mengirimkan segala file ke mp3fip15@gmail.com Ko...

Hidup Sendiri Akan Terasa Damai dan Baik-Baik Saja

 Oleh: Feris Rahma Auliya Aku pernah merasa jenuh untuk tinggal di rumah, yang sepertinya tidak lagi menjadi tempat pulangku yang utuh. Setiap hari, ada saja perselisihan yang terjadi di rumah kami. Entah saling berebut remot TV dengan adik, ibu yang menyuruh membeli ini dan itu padahal aku sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah, atau ayah yang- Ah sudahlah! Aku bahkan tidak pernah akrab dengan ayah. Dalam sehari pun, belum tentu aku berbicara kepadanya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berbicara seperlunya saja. Tanpa ada kesepakatan, hal itu terjadi dengan sendirinya. Seperti itulah gambaran rumah bagiku. Rasanya muak. Aku ingin pergi. Pergi jauh ke kota orang yang asing. Di mana hanya ada aku dan diriku. Itu saja. “Hidup sendiri akan terasa damai dan baik-baik saja,” begitulah pikirku. Pada bulan April yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, aku berencana merantau ke kota Blitar. Selain karena tempat kuliahku berada di kota Patria itu, aku juga ingin menjelajah bumi, meny...

Omelan Aktivis Desa

Penulis : Khoirul Muttaqin (PLS FIP 2015) Udara yang segar hujan yang indah bulan yang telah berlalu. Secuil mentari terlihat anggun dibalik gunung jauh pertanda hari baru telah datang. Kupu-kupu dan kumbang mulai menampakkan dirinya di antara bunga-bunga melati kesukaanku. Bulan ini berbeda dengan bulan yang telah berlalu. Nyanyian ketidak cocokan terus mengalir dalam benakku. Hari-hari ini. Beberapa hari suara klakson aneh itu terdengar terus di telinga. Pagi siang malam suaranya tak kunjung reda. Kenapa yang hanya suara seperti itu saja bisa menggema ke berbagai sudut ruanganku, televisi radio dan dunia maya juga tak henti-hentinya mengeluarkan suara aneh itu. “Buku Conscientizacao Tujuan Pendidikan Paulo Freire ini   kelihatannya bagus   buat dibaca orang-orang latah itu agar sadar akan keberadaannya. Supaya tidak mudah ikut-ikutan budaya tranding , terseret arus yang enggak jelas yang terlihat bagaikan tidak memiliki p...