Langsung ke konten utama

Hari Kesebelas Ramadhan

 Oleh : Putriana Kusuma Wardani


Pada pojok restoran keluarga duduklah segerombol manusia

Alunan tawa pemuda-pemudi menggema dari ujung sana

Ikut membaur bersama kawan-kawan yang lama tak berjumpa

Kucoba tuk tetap kuasai diri kembangkan senyum di muka


Detik pertama kulihat wajah-wajah yang bercengkerama di sana

Sejak masa itulah kupahami esensi sebenarnya acara hari ini

Sebuah ajang pamer pencapaian berkedok “buka puasa bersama”

Yang harusnya jadi penyambung tali persaudaraan di bulan suci ini

Nyatanya dijadikan persaingan tuk nyatakan siapa yang terhebat


Ingin sekali aku pergi, tapi tak mungkin untuk lakukannya

Sudah cukup lima tahun kutolak beralasan urusan keluarga

“Tetaplah jaga silaturahmi dengan setiap insan yang kamu temui”

Pesan Bapak yang sadarkanku tuk bersua lagi dengan mereka

Paling tidak aku bisa berhadapan lagi bersama teman seperjuangan


Andaikan Bapak tak menyusul perginya Ibu enam bulan lalu

Tentu tanpa berpikir aku akan berada di rumah sekarang

Bersama kakak, kutinggalkan perantauan tuk pulang ke rumah

Berdua siapkan masakan kesukaan berbuka puasa bersama

Bacaan ayat suci yang merdu dari Bapak kan menjadi teman

Tapi kini semua itu tak akan bisa terulang kembali


Tepukan di pundak menyadarkanku dari lamunan

Kembali kuciptakan senyum tanda baik-baik saja

Kubiarkan diri melebur bersama kawan lama

Menikmati keramaian tawa bahagia selagi bisa

Sebab saat pulang ke kediaman nanti

Hanya sunyi dan sepi yang menjadi kawan baikku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

LOMBA CERPEN NASIONAL MP3 FIP UM

 Syarat dan ketentuan : Peserta siswa SMA/SMK/Sederajat se-Indonesia Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat Hak cipta melekat pada penulis, tapi hak terbit menjadi hak panitia  Tanggal penting : Pengumpulan naskah 17 Juni s.d. 30 Agustus 2016 Penjurian 1 September – 7 September 2016 Pengumuman Lomba 9 September 2016  Ketentuan naskah : Karya diketik rapi dalam bentuk softfile ms.word : kertas A4, Times New Roman, font size 12, spasi 1.5, margin kiri 4cm, margin kanan 3cm, margin atas 3cm, margin bawah 3cm. Panjang naskah 3-5 halaman Karya yang dikirim tidak diperbolehkan mengandung unsur adu domba antar suku, agama, ras Karya yang dikirim harus bersifat original, dan belum pernah dipublikasikan di media apapun    Mekanisme pendaftaran lomba cerpen Peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 25.000 per naskah Pembayaran dikirimkan ke rek. BRI 640501010814538 an. Armi Diah Mengirimkan segala file ke mp3fip15@gmail.com Ko...

Omelan Aktivis Desa

Penulis : Khoirul Muttaqin (PLS FIP 2015) Udara yang segar hujan yang indah bulan yang telah berlalu. Secuil mentari terlihat anggun dibalik gunung jauh pertanda hari baru telah datang. Kupu-kupu dan kumbang mulai menampakkan dirinya di antara bunga-bunga melati kesukaanku. Bulan ini berbeda dengan bulan yang telah berlalu. Nyanyian ketidak cocokan terus mengalir dalam benakku. Hari-hari ini. Beberapa hari suara klakson aneh itu terdengar terus di telinga. Pagi siang malam suaranya tak kunjung reda. Kenapa yang hanya suara seperti itu saja bisa menggema ke berbagai sudut ruanganku, televisi radio dan dunia maya juga tak henti-hentinya mengeluarkan suara aneh itu. “Buku Conscientizacao Tujuan Pendidikan Paulo Freire ini   kelihatannya bagus   buat dibaca orang-orang latah itu agar sadar akan keberadaannya. Supaya tidak mudah ikut-ikutan budaya tranding , terseret arus yang enggak jelas yang terlihat bagaikan tidak memiliki p...

Hidup Sendiri Akan Terasa Damai dan Baik-Baik Saja

 Oleh: Feris Rahma Auliya Aku pernah merasa jenuh untuk tinggal di rumah, yang sepertinya tidak lagi menjadi tempat pulangku yang utuh. Setiap hari, ada saja perselisihan yang terjadi di rumah kami. Entah saling berebut remot TV dengan adik, ibu yang menyuruh membeli ini dan itu padahal aku sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah, atau ayah yang- Ah sudahlah! Aku bahkan tidak pernah akrab dengan ayah. Dalam sehari pun, belum tentu aku berbicara kepadanya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berbicara seperlunya saja. Tanpa ada kesepakatan, hal itu terjadi dengan sendirinya. Seperti itulah gambaran rumah bagiku. Rasanya muak. Aku ingin pergi. Pergi jauh ke kota orang yang asing. Di mana hanya ada aku dan diriku. Itu saja. “Hidup sendiri akan terasa damai dan baik-baik saja,” begitulah pikirku. Pada bulan April yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, aku berencana merantau ke kota Blitar. Selain karena tempat kuliahku berada di kota Patria itu, aku juga ingin menjelajah bumi, meny...