Langsung ke konten utama

Meriahkan Hari Kemerdekaan RI, Ormawa FIP Adakan Lomba Agustusan Antar Ormawa



Sabtu (19/08) – Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (FIP UM) patut diacungi jempol karena kekompakannya dalam mengakrabkan antar ormawa dengan mengadakan lomba agustusan antar Ormawa FIP. Mulanya, ide ini muncul di hari Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) yang kedua. Hal ini ditanggapi dengan baik oleh ormawa dan segera ditindaklanjuti.

Kegiatan yang dilakukan di area parkir Gedung Kuliah Bersama D2 FIP UM dan lapangan asrama putri ini diamanahkan kepada Bangga dari Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa (HMJ PLB). “Tujuan dari adanya lomba agustusan ialah, guna mengakrabkan antar Ormawa dan berpartisipasi dalam perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-72. Alhamdulillah acara ini berjalan dengan lancar dan sesuai dengan keinginan serta partisipasi yang tinggi, semoga acara seperti ini dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya”, ujar Bangga (PLB/2015).
Beberapa lomba agustusan antar Ormawa FIP UM kali ini diantaranya, lomba balap karung, balap sarung, tarik tambang, sepak bola terong, dan lomba makan kerupuk. Tak mau ketinggalan, penonton dari lomba agustusan tidak hanya dari warga FIP maupun Ormawa, maba dari fakultas lain yang melintas pun antusias menyaksikan.
Diyah Ayu selaku anggota HMJ Pendidikan Luar Sekolah (PLS) menuturkan bahwa acara seperti ini sangat seru karena di tahun-tahun yang lalu belum ada. Harapannya, setiap tahun diadakan acara seperti ini, karena kegiatan ini sangat berdampak pada Ormawa, terutama belajar bagaimana cara yang baik dalam suatu tim. “Tidak hanya itu, melalui kegiatan ini saya jadi bisa kenal dengan anggota Ormawa-ormawa lain yang ada di FIP, FIP Nyentrik!” (Nor/DE).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BENARKAH??

Karya : Ariska Endah Pratiwi (Ketua Divisi Sastra 2016) Senin pagi, desir-desir angin mengipasi udara Malang. Sejuk, dengan rimbun pohon hijau dan gesekan sapu tukang kebun yang mengayunkan nada pada daun-daun yang berguguran. Sendiri, aku mengetik tulisan ini sendirian, tanpa kawan, tanpa makanan, tanpa minuman. Hening, tepat ketika jarum jamku menunjuk angka delapan, aku hilang dalam keheninganku sendiri. “Mengapa aku disini?” tanyaku pada papan keyboard yang kutunggangi. “Untuk apa aku disini?” tanyaku pada hening yang memuakkan. Aku haus, kurogoh tas ransel abu-abu yang baru dibelikan ibuku satu minggu lalu. Kuambil sebotol air putih pada wadah orange dan kutenggak. Tetapi kerongkonganku tetap kering dan sakit. Aku baru sadar udara sejuk ini menipuku, karena pada kenyataannya aku tak sesejuk pohon maupun tiupan angin. Aku gersang dan terlalu banyak pertanyaan yang menyembul bagai sulur di atas otakku, mematikan aku untuk berpikir yang membahagiakan. Tadi malam, aku mim...

Hidup Sendiri Akan Terasa Damai dan Baik-Baik Saja

 Oleh: Feris Rahma Auliya Aku pernah merasa jenuh untuk tinggal di rumah, yang sepertinya tidak lagi menjadi tempat pulangku yang utuh. Setiap hari, ada saja perselisihan yang terjadi di rumah kami. Entah saling berebut remot TV dengan adik, ibu yang menyuruh membeli ini dan itu padahal aku sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah, atau ayah yang- Ah sudahlah! Aku bahkan tidak pernah akrab dengan ayah. Dalam sehari pun, belum tentu aku berbicara kepadanya. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berbicara seperlunya saja. Tanpa ada kesepakatan, hal itu terjadi dengan sendirinya. Seperti itulah gambaran rumah bagiku. Rasanya muak. Aku ingin pergi. Pergi jauh ke kota orang yang asing. Di mana hanya ada aku dan diriku. Itu saja. “Hidup sendiri akan terasa damai dan baik-baik saja,” begitulah pikirku. Pada bulan April yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, aku berencana merantau ke kota Blitar. Selain karena tempat kuliahku berada di kota Patria itu, aku juga ingin menjelajah bumi, meny...

Omelan Aktivis Desa

Penulis : Khoirul Muttaqin (PLS FIP 2015) Udara yang segar hujan yang indah bulan yang telah berlalu. Secuil mentari terlihat anggun dibalik gunung jauh pertanda hari baru telah datang. Kupu-kupu dan kumbang mulai menampakkan dirinya di antara bunga-bunga melati kesukaanku. Bulan ini berbeda dengan bulan yang telah berlalu. Nyanyian ketidak cocokan terus mengalir dalam benakku. Hari-hari ini. Beberapa hari suara klakson aneh itu terdengar terus di telinga. Pagi siang malam suaranya tak kunjung reda. Kenapa yang hanya suara seperti itu saja bisa menggema ke berbagai sudut ruanganku, televisi radio dan dunia maya juga tak henti-hentinya mengeluarkan suara aneh itu. “Buku Conscientizacao Tujuan Pendidikan Paulo Freire ini   kelihatannya bagus   buat dibaca orang-orang latah itu agar sadar akan keberadaannya. Supaya tidak mudah ikut-ikutan budaya tranding , terseret arus yang enggak jelas yang terlihat bagaikan tidak memiliki p...